Tatkala laman fesbuk Kraksaan Probolinggo memuat foto situasi persimpangan Gelora Merdeka Kraksaan di hari Sabtu, 16 Desember 2017. Ada tanggapan Warga yang masuk:

Masukan berharga yang bisa cegah kecelakaa lalu lintas ini muncul saat melihat foto status laman fesbuk yang bergaya satire, menyindir remaja-remaja putri yang mengabaikan penggunaan helm sebagai sarana penyelamat kepala.

remaja tanpa helm

Masa rawan sih persimpangan Gelora Merdeka Kraksaan? Di bawah ini ada CCTV Google yang bisa Anda puter-puter gambarnya. Terlihat ada lampu penerangan jalan. Apakah kurang terang ?

Eh ada tampak wanita tertangkap lensa Google yang berada di tengah..!

 

Acara super keren kumpul-kumpul para SMART Netizen Probolinggo digelar di Gending, Probolinggo beberapa waktu yang lalu. Hadir anak-anak muda pengurus grup Info Lantas & Kriminal Probolinggo (ILKPRO), anak-anak muda Saka Bhayangkara, para operator Senkom Mitra Polri, opisboi Kraksaan[dot]COM, admin fanpage Probolinggo, dan Kapolres Jaman NOW AKBP Fadly Samad.

Dalam acara itu, ada paparan menarik yang disampaikan Agung Wiendarto, seorang rakyat jelata aktif di sosmed dari Paiton, Probolinggo. Agung menguraikan DOPAMINE, suatu senyawa kimia organik yang terdapat pada otak manusia yang potensial pengaruhi perilaku tiap netizen dalam update status di media sosial.

Dopamine ini adalah neurotransmiter, senyawa kimia yang dilepaskan neuron sel syaraf untuk pancarkan sinyal ke sel syaraf lainnya. Dopamine memicu rasa bahagia, menyebabkan naiknya motivasi, atas suatu kejadian yang dialami manusia. Seperti saat kita menerima hadiah, pujian, atau saat kita mendapatkan LIKE atau JEMPOL.” papar Agung.

Netizen yang tidak menyadari kehadiran DOPAMINE ini, saat JEMPOL yang diterimanya menurun, DOPAMINE nya meningkat. Memicu motivasi netizen untuk mencari cara bagaimana posting nya diLIKE atau dikomentari banyak orang.

(Baca: Kapolres Jaman NOW itu Ternyata Seperti Ini )

Bagi Warga NET yang kreatif dan memiliki wawasan NETIKET ~ yaitu etika dalam internet ~ maka dia akan kreatif membuat postingan baru yang menarik. Namun bagi Warga NET yang baru pegang HP Android, atau belum tahu soal etika dalam media sosial, DOPAMINE memicu dia pilih postingan netizen lain yang menurut dia bagus, mengharukan, mencengangkan, mengerikan, untuk di forward ke teman-temannya – ke grup-grup FB, ke grup-grup WhatsApp tanpa proses cek ulang, atau mencari referensi lain untuk memastikan kebenarannya.

Andai postingannya menarik, positif, tidak masalah. Namun akan berpotensi masalah tatkala postingannya memuat konten porno, foto korban kecelakaan yang posisinya mengenaskan tanpa di blur, foto banjir yang terjadi 5 jam yang lalu yang semestinya sudah surut namun tetap dia muat dengan pengantar “lebih baik terlambat dari pada tidak upload”. Juga HOAX foto letusan Gunung saat gunungnya masih dalam status siaga.”

Lebih lanjut Agung memaparkan bahwa, “Jika kita menyadari kehadiran DOPAMINE ini dalam status medsos yang¬† teman kita, atau orang lain, setidaknya kita paham, bahwa teman kita dalam pengaruh DOPAMINE nya. Jadi kita tak perlu bersitegang tentang konten yang dipostingnya, tapi kita tenangkan dia untuk menurunkan kadar DOPAMINEnya.

Disinilah letak pentingnya peran Admin-admin Grup Facebook yang berbakti pada Nusa dan Bangsa, yang walaupun tetap mengedepankan kebebasan berpendapat, menjaga agar postingan member Grup nya tetap positif, informatif, bermanfaat, mempererat persaudaraan seBangsa se Tanah Air “, imbuh Agung.

Dalam kesempatan yang sama, Agung memperkenalkan tag line untuk menghadapi trafik media sosial terkait pilkada tahun depan. Tag line kreasi Agung Wiendarto yang memiliki akun FB/IG nya @anakgunung ini mengajak untuk menjaga persaudaraan sesama Warga Probolinggo:

pelean olle bhidheh
tapeh setretanan pagghun jegeh

Wah jadi pengen pakai kaos ini deh Pak..!

Paiton – Kenaikan tarif dasar listrik yang dilakukan oleh pemerintah mulai awal januari hingga awal Juli 2017 kemarin masih menyisakan beban bagi rakyat kecil dengan penghasilan pas-pasan. Kenaikan TDL yang hampir 2 kali lipat lebih menyisakan banyak keluhan di masyarakat, meskipun di sisi lain dana subsidi yang dicabut tersebut dialokasikan untuk pembangunan unit-unit pembangkit baru dengan program 35.000 MW pemerintahan Jokowi.

“Dulu dengan daya terpasang 900 VA, maksimal sebulan beli pulsa 100 ribu sudah cukup. Sekarang, 200 ribu tidak cukup”, tutur Bapak Siswono, warga Desa Sumberanyar – Paiton yang juga mengelola Yayasan Anak Yatim dan Dhuafa “Berkarya”. Selain berimbas pada warga desa, kenaikan TDL ini juga dirasakan oleh warga perumahan dengan profesi sebagai guru, tenaga hororer, security, dan beberapa profesi lainnya. Bapak Kholish, menuturkan kalau kebutuhan pulsa listrik rumahnya dalam sebulan tidak cukup 200 ribu, dengan beban alat-alat rumah tangga selain AC.

Di saat kondisi ekonomi masyarakat yang belum stabil, ditandai dengan menurunnya daya beli dan konsumsi masyarakat, pemerintah melalui menteri BUMN berencana lagi untuk menghapus listrik rumah tangga dibawah 4.000 VA. Seperti yang kita ketahui, tarif listrik golongan 900 VA saat ini yaitu Rp 1.352,- per kWh, sedangkan untuk golongan 1.300 VA ke atas sebesar 1.467,28 per kWh. Mayoritas konsumen listrik saat ini yaitu golongan rumah tangga 450 VA dan 900 VA. Jika kebijakan ini dilakukan oleh pemerintah, maka dapat dipastikan akan terjadi kenaikan tarif dasar listrik lagi.

Baca juga : http://kraksaan.com/nurul-jadid-gelar-seminar-rancang-bangun-mikrohydro-dan-panel-surya/

Melihat kondisi tarif listrik yang kian merangkak naik dan tidak menentu, membuat Engineer PT. YTL Jawa Timur, Bapak Rio Supriaga, membangun solar home system/ solar panel di rumahnya sebagai upaya penghematan listrik dan pemanfaatan energi baru terbarukan. “Saat ini mungkin belum booming, namun saya yakin, kedepannya solar panel akan booming di masyarakat di tengah naiknya tarif daya listrik PLN dan langkanya bahan bakar batubara”, tutur Ketua Tim CSR Solar Panel PT. YTL Jawa Timur tersebut.

Saat ini di rumahnya sudah terpasang listrik dari PLN dengan daya 2200 VA dan dari panel surya sebesar 3000 WP atau setara dengan 2500 VA dari PLN. Untuk kondisi cuaca yg panas dan terang, maka supply kebutuhan listrik semuanya terpenuhi dari panel surya. Dengan adanya meteran listrik dua arah dari PLN, kelebihan daya listrik dari solar panel bisa disalurkan ke PLN dan menjadi tabungan yang bisa dipakai saat malam hari ataupun saat musim hujan. Kelebihan daya listrik akan terus diakumulasikan dari bulan ke bulan berikutnya dan akan menjadi saldo yang bisa dipakai sewaktu-waktu.

Bpk. Rio Supriaga dengan Solar Home System (Foto : Dok. Udin)

“Dengan adanya teknologi kWh meter dua arah dari PLN, sangat mengurangi dan menghemat biaya investasi dari panel surya, karena tidak lagi perlu baterai yang investasinya mencapai 30% dari total biaya yang dikeluarkan. Selain itu, kelebihan daya listrik listrik pada siang hari, bisa langsung ditabung di PLN dan bisa dipakai saat malam hari atau saat kondisi produksi solar panel menurun karena mendung”. Tutur Dosen Luar Biasa Jurusan Teknik Elektro Universitas Nurul Jadid Paiton.

Dengan hitung-hitungan harga listrik saat ini, yaitu Rp 1.467,28 per kWh untuk daya di atas 1300 VA, investasi untuk membangun solar home system akan mencapai BEP sekitar 6 tahun. Setelah itu, kita akan menikmati listrik gratis selama puluhan tahun. Sebagai informasi, teknologi solar panel secara ekonomis sangat panjang masa pakainya dan garansi dari pabrik selama 25 tahun outputnya masih diatas 80% dari max output saat pertama kali dipasang, artinya selama 25 tahun penurunan kapasitas output tidak sampai 20%.