HRD - Tips untuk Pencari Kerja
Rekan-rekan Pencari Kerja
Kebanyakan dari kita mencari gaji besar pada posisi yang kita lamar, itu sudah pasti. Gaji yang lebih besar dianggap memberikan jaminan daya beli yang lebih kuat. Daya beli yang meningkat dianggap ekuivalen dengan kepuasan. Jadi gaji besar = kepuasan kerja.
Itu analogi yang terlalu disederhanakan!
Kita lihat fenomena orang yang sudah bergaji besar justru lebih mudah berpindah pekerjaan. Hanya selang 1 – 2 tahun, ia sudah loncat ke perusahaan lain – dan akhirnya ia disebut kutu loncat. Seorang pencari kerja yang berpredikat kutu loncat biasanya cerdas – sehingga dibayar mahal. Ketika meloncat ke perusahaan lain, sudah pasti yang dicarinya adalah gaji yang lebih tinggi. Demikian seterusnya. Lalu, pada takaran gaji berapa ia akan puas?
Gaji yang tinggi sudah pasti memberikan rasa percaya diri dan prestige. Wajar bila orang mencarinya. Tapi jangan lupa, di balik keindahan gaji yang besar ada konsekuensi perofesional dan non-profesional yang tidak bisa diabaikan.
Konsekuensi profesional adalah tuntutan dari jabatan yang disandang. Resiko, ketidak nyamanan lingkungan kerja, stress kerja, konsekuensi legal, dsb. Perusahaan berani memberikan gaji lebih tinggi pasti dengan alasan kuat.
Ada beberapa jenis sektor usaha yang memang dikenal memberikan level gaji lebih tinggi, misalnya oil & gas, pertambangan, dan beberapa industri berat lainnya. Faktor resiko dan lokasi kerja yang jauh dari kota besar menyebabkan level gaji mereka lebih tinggi. Semakin jauh, tunjangan yang diberikan juga lebih beragam, sehingga mendongkrak take home pay. Bukan hanya cash income, benefit non-tunai juga biasanya lebih besar di beberapa sektor ini. Benefit non-tunai ini tidak bisa diabaikan sebenarnya, karena manfaat bagi pekerja besar, dan biaya yang dikeluarkan Perusahaan juga besar, misalnya: asuransi kesehatan (non jamsostek - melalui provider asuransi kesehatan swasta yang bagus), asuransi jiwa, dana pensiun, ada pula yang memberikan COP (car ownership program), dsb. Selain gaji, macam benefit ini juga perlu diperhatikan.
Konsekuensi non-profesional, khususnya yang terkait dengan budaya perusahaan, juga aspek yang tidak bisa diabaikan. Di perusahaan asing, kultur expatriat (Eropa, Amerika, Korea, Jepang) biasanya sangat mewarnai, dan tidak jarang bertabrakan dengan kultur lokal kita. Sekalipun kita adalah “tuan rumah”, justru kitalah yang harus menyesuaikan diri dengan mereka.
Saya pernah mendapati sebuah kejadian yang dialami seorang engineer muda, berbakat, bergaji tinggi, namun harus berakhir dengan pengunduran diri dari perusahaan. Sebagai seorang muda yang berbakat, si X dihargai dengan gaji yang baik. Ia adalah bintang di perusahaan sebelumnya, dan asumsi pimpinan yang merekrutnya dia akan memberikan kontribusi besar. Dalam perjalanannya, ia kesulitan berkomunikasi dengan Manajernya, seorang expatriat yang tidak cerdas dan mau menang sendiri. Berulang kali si X tidak sepakat dengan Manajernya ini, dan berakhir dengan pertengkaran. Dengan otoritasnya, ia meletakkan si X di meja, tanpa pekerjaan. Manajer tersebut total mengabaikan dia, dan sama sekali tidak memberinya akses pada pekerjaan. Tidak sampai setahun kemudian, si X mengundurkan diri.
Bagi pencari kerja yang beroleh rizki penawaran kerja lebih dari satu, ada hal penting yang harus dipertimbangkan – selain gaji: prospek pengembangan diri. Perusahaan group yang besar seperti Unilever dan Nestle, mungkin di awal akan cenderung meletakkan seorang sarjana teknik yang baru lulus di posisi dasar, benar-benar sebagai pekerja. Akan jauh bedanya dengan sebuah pabrik pengolahan kayu yang bukan group, misalnya. Sekalipun baru lulus, bisa jadi sarjana teknik tadi langsung menempati posisi supervisor. Gaji awal, bisa jadi pabrik pengolahan kayu tadi memberikan level yang lebih besar. Saya akan menyarankan untuk mencari posisi di perusahaan group, karena peluang karier dan pengembangan kompetensi biasanya lebih bagus.
Sekalipun gaji besar itu menarik, janganlah terburu-buru berpindah kerja, karena akan sangat jelek bagi CV maupun kompetensi personal anda. Bila seorang rekruter melihat anda berpindah kerja tiap 2 tahun, dengan dalih apapun, ia akan berasumsi anda akan bertahan di perusahaannya paling lama 2 – 3 tahun. Dari sisi kompetensi, pengalaman 1 tahun X 10 tidak sama nilainya dengan 10 tahun X 1. Apalagi bila pengembangan kompetensi di perusahaan itu baik.
Pilihan di tangan anda, tapi pilihlah dengan bijak.
Salam Sukses!
| < Kembali | Berikutnya > |
|---|