Lakukan dan Jangan Lakukan

Penulis:  Bapak Herdian Zulkarnain

Persiapan Wawancara – 3

yang bagusJangan bingung dengan judul di atas, maksud sebetulnya adalah peng-Indonesia-an dari istilah umum bahasa Inggris: Dos and Don’ts, yaitu apa saja yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan dalam proses wawancara.

Karena wawancara bukan semata persoalan teknis, aturan-aturan yang ada di sekitarnya pun seringkali bukan hal baku – tetapi secara norma sosial begitulah yang diharapkan. Kalau anda melakukan sesuai dengan norma yang berlaku, anda akan dianggap baik sementara kalau tidak mematuhinya akan dianggap aneh atau tidak lumrah.

Lakukan yang ini:

  1. Datang lebih awal dari waktu undangan, karena hal itu akan memberikan kesan baik dan anda punya waktu untuk menenangkan diri. Berpakaian konservatif –  Sebagaimana diulas >> disini <<
  2. Bersikap baik sejak menginjakkan kaki di wilayah perusahaan, dan sapalah (minimal dengan anggukan hormat) pada semua orang yang dijumpai sejak gerbang hingga resepsionis. Harap diingat, tidak jarang penilaian orang-orang ini dipakai untuk menentukan layak-tidaknya seseorang bergabung.
  3. Persiapkan semua dokumen yang dibutuhkan dalam map atau document keeper yang mudah diakses, kalau-kalau pewawancara ingin melihat dokumen asli CV anda.
  4. Selama menunggu giliran wawancara, sambil menenangkan emosi, tidak ada salahnya melihat-lihat sekeliling ruang tunggu. Tujuannya mengenali lebih jauh profil perusahaan yang anda lamar. Siapa tahu nanti anda akan ditanya kesan pertama saat melihat perusahaan tsb.
  5. Bersikap dan bertindak formal saat dipanggil masuk ke ruang wawancara. Ulurkan tangan untuk berjabat tangan, sebagai inisiatif positif dan kesan membuka diri. Jabatlah tangan pewawancara dengan firm (tegas dan percaya diri), jangan loyo (seperti asal menjabat tangan). Menjabat dengan dua tangan yang menjadi adat orang Timur boleh saja, tetapi orang Barat mungkin akan menganggapnya aneh.
  6. Ambil jarak duduk yang formal, sekitar 20 – 30 cm dari tepi meja, duduk tegak, dan tidak meletakkan apapun di meja yang membatasi wilayah pewawancara dan anda sebagai kandidat.
  7. Jawablah pertanyaan dengan cerdas dan komprehensif. Kembangkan jawaban, dan kerahkan semua kemampuan. Jangan segan bertanya bila merasa pertanyaan kurang jelas. Jangan segan meminta maaf bila merasa kurang lengkap dalam menjawab.
  8. Setelah semua tanya jawab berakhir, bila diberi kesempatan bertanya tanyakan hal yang menurut anda layak untuk anda pahami. Ini penting untuk memantapkan hati, mau bergabung atau tidak dengan perusahaan.
  9. Ucapkan terima kasih sebelum berdiri dari kursi. Salami sekali lagi pewawancara dengan hangat.

janganJangan Lakukan yang ini:

  1. Menyepelekan atau menggampangkan wawancara – sekalipun anda punya koneksi di dalam perusahaan. Sikap dan perasaaan ini membuat anda tidak optimal.
  2. Terlambat datang. Ini adalah hal yang fatal, karena berarti kandidat gagal menunjukkan respek atau rasa hormat pada pewawancara.
  3. Saltum atau salah kostum. Sekalipun, misalnya, anda suka warna hitam tidak kemudian wawancara pun dengan kemeja hitam. Kalau Bob Sadino sebagai pengusaha eksentrik pakai celana pendek kemanapun sah-sah saja, tetapi kalau kita begitu mungkin akan dianggap kurang waras.
  4. Datang tanpa persiapan. Tanpa persiapan yang matang, anda bisa mempermalukan diri sendiri dan terlihat bodoh di hadapan pewawancara.
  5. Tidak antusias. Jabat tangan yang lemas, postur tubuh yang tidak tegak, dan suara yang tidak yakin akan membuat pewawancara berpikir anda tidak serius.
  6. Meja adalah wilayah pewawancara, sehingga kalau anda meletakkan tangan di sana akan dianggap sebagai sikap ekspansif – dan itu tidak disukai pewawancara. Kadang, terlalu antusias membuat kandidat berlebihan, dan tanpa sadar masuk ke wilayah psikologis pewawancara, yaitu tepi meja. Biasanya, kalau anda terlalu maju, pewawancara akan mundur dan duduk bersandar di kursi.
  7. Sok tahu. Mengeksplorasi jawaban dengan sok tahu adalah 2 hal yang berbeda. Pewawancara juga bisa menangkap gejala ini, manakala jawaban sudah melenceng jauh dari konteks yang ditanyakan.
  8. Menggurui. Kalau pewawancara terlihat muda dan tidak berpengalaman, dorongan untuk menggurui terkadang muncul pada kandidat yang lebih senior atau lebih berpengalaman. Tujuannya mungkin sekedar menunjukkan batas kompetensi, tetapi caranya keliru.
  9. Tidak perseptif. Perusahaan multinasional yang berwujud pabrik industri pada umumnya menerapkan aturan yang ketat pada safety, kebersihan, dan aturan merokok. Ini harus disadari, dan jangan sampai membuat kekeliruan justru di point penting ini. Sekalipun merokok adalah hak asasi, tetapi hati-hati hal merokok sembarangan bisa membuat anda gagal dalam wawancara.

Jangan berpikir bisa langsung lulus dalam wawancara pertama, rendah hatilah, namun tetap optimis. Kalau masih belum berhasil, anggaplah masih ada kekurangan anda atau kompetensi anda masih belum mencapai standar. Tetap kembangkan diri anda, dan terus berdoa.

Comments

comments