|
HRD -
Tips untuk Pencari Kerja
|
|
Ditulis oleh Herdian Zulkarnain
|
|
LAKUKAN DAN JANGAN LAKUKAN
Jangan bingung dengan judulnya, maksudnya adalah peng-Indonesia-an dari istilah umum bahasa Inggris: Dos and Don’ts, yaitu apa saja yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan dalam proses wawancara.
Karena wawancara bukan semata persoalan teknis, aturan-aturan yang ada di sekitarnya pun seringkali bukan hal baku – tetapi secara norma sosial begitulah yang diharapkan. Kalau anda melakukan sesuai dengan norma yang berlaku, anda akan dianggap baik sementara kalau tidak mematuhinya akan dianggap aneh atau tidak lumrah.
Lakukan yang ini:
- Datang lebih awal daripada waktu undangan, karena hal itu akan memberikan kesan baik dan anda punya waktu untuk menenangkan diri.
- Berpakaian konservatif – Sebagaimana diulas disini.
Bersikap baik sejak menginjakkan kaki di wilayah perusahaan, dan sapalah (minimal dengan anggukan hormat) pada semua orang yang dijumpai sejak gerbang hingga resepsionis. Harap diingat, tidak jarang penilaian orang-orang ini dipakai untuk menentukan layak-tidaknya seseorang bergabung.
Persiapkan semua dokumen yang dibutuhkan dalam map atau document keeper yang mudah diakses, kalau-kalau pewawancara ingin melihat dokumen asli CV anda.
Selama menunggu giliran wawancara, sambil menenangkan emosi, tidak ada salahnya melihat-lihat sekeliling ruang tunggu. Tujuannya mengenali lebih jauh profil perusahaan yang anda lamar. Siapa tahu nanti anda akan ditanya kesan pertama saat melihat perusahaan tsb.
Bersikap dan bertindak formal saat dipanggil masuk ke ruang wawancara. Ulurkan tangan untuk berjabat tangan, sebagai inisiatif positif dan kesan membuka diri. Jabatlah tangan pewawancara dengan firm (tegas dan percaya diri), jangan loyo (seperti asal menjabat tangan). Menjabat dengan dua tangan yang menjadi adat orang Timur boleh saja, tetapi orang Barat mungkin akan menganggapnya aneh.
Ambil jarak duduk yang formal, sekitar 20 – 30 cm dari tepi meja, duduk tegak, dan tidak meletakkan apapun di meja yang membatasi wilayah pewawancara dan anda sebagai kandidat.
Jawablah pertanyaan dengan cerdas dan komprehensif. Kembangkan jawaban, dan kerahkan semua kemampuan. Jangan segan bertanya bila merasa pertanyaan kurang jelas. Jangan segan meminta maaf bila merasa kurang lengkap dalam menjawab.
Setelah semua tanya jawab berakhir, bila diberi kesempatan bertanya tanyakan hal yang menurut anda layak untuk anda pahami. Ini penting untuk memantapkan hati, mau bergabung atau tidak dengan perusahaan.
Ucapkan terima kasih sebelum berdiri dari kursi. Salami sekali lagi pewawancara dengan hangat.
|
|
|
HRD -
Tips untuk Pencari Kerja
|
|
Ditulis oleh Herdian Zulkarnain
|
|
Wawancara pekerjaan secara umum terbagi atas 2 jenis: wawancara individual dan wawancara panel. Untuk proses seleksi yang berseri, seringkali wawancara dilakukan dalam bentuk individual sehingga kandidat harus menghadapi beberapa pewawancara yang berbeda – sesuai dengan keahlian dan departemen yang diwakili. Dalam wawancara model panel, kandidat akan berhadapan dengan 2 hingga 5 pewawancara yang mewakili keahlian yang berbeda. Apapun bentuknya, pada pokoknya kandidat akan menghadapi wawancara secara multidisiplin.
|
|
HRD -
Tips untuk Pencari Kerja
|
|
Ditulis oleh Herdian Zulkarnain
|
|
Wawancara bukan ilmu matematika, tidak ada hal yang pasti! Tidak mengherankan bila ada orang yang menganggapnya lebih mengerikan daripada psikotes atau tes bidang akademik. Dua orang kandidat dengan jawaban yang mirip, ketrampilan yang setara, kecerdasan yang berimbang, belum tentu sama-sama diterima kerja. Ada faktor lain yang berperan.
Saat anda menerima undangan wawancara, setidaknya anda perlu memikirkan 4 hal, yaitu:
-
Pakaian yang akan anda kenakan.
-
Apa yang sudah anda ketahui tentang perusahaan yang mengundang anda
- Riwayat hidup yang sudah anda kirimkan ke perusahaan tersebut
- Rencanakan perjalanan anda
|
|
|
HRD -
Tips untuk Pencari Kerja
|
|
Ditulis oleh Herdian Zulkarnain
|
|
“Masak sih, masuk kerja dites fisika macam anak SMA? Ya kan sudah banyak lupa!”
“Gara-gara psikotes saya gak lulus!”...
“Tinggal selangkah lagi ... tinggal wawancara doang, akhirnya gagal juga.”
Pengalaman tes masuk kerja teman atau kerabat membuat kita tambah stress. Kalau sudah menerima panggilan tes, yang terbayang adalah psikotes atau tes tulis, lalu diakhiri dengan wawancara. Semuanya tidak mudah, semuanya memberikan tekanan yang berbeda-beda.
|
|
HRD -
Tips untuk Pencari Kerja
|
|
Ditulis oleh Herdian Zulkarnain
|
|
Pasar kerja itu seperti sebuah bangunan tertutup dengan satu pintu kecil. Hanya mereka yang beruntung atau berani saja yang bisa memasukinya. Akan tetapi, sekali orang berhasil memasukinya, banyak pintu lain yang berada di dalamnya bisa terbuka dengan cukup mudah. Banyak kesempatan atau pilihan untuk berkarier menanti, bahkan hingga ke manca negara. Memang, masalahnya selalu ada di pintu pertama!
|
|
|
|
|
<< Mulai < Kembali 1 2 3 Berikutnya > End >>
|
|
Halaman ke-1 dari 3 halaman |